Rabu, 21 Juli 2010

Back 2 Zero

S-A-B-A-R.
Cuma 5 huruf tapi ngejalaninya seberat 5 ton atau mungkin lebih tergantung siapa yang menjalaninya. Lima huruf di atas adalah materi usrohku minggu lalu. Luar biasa mbak ku ini. Kalimat-kalimatnya begitu dalam, begitu keras menusukkan isi materi ke qolbu. Begitu kuat nuansa ruhiyahnya sehingga bulu romaku pun ikut berdiri. Tak lupa pula beliau menyelipkan kisah-kisah nyata sehingga menambah dramatisasi usroh kami pada hari itu.

Ada beberapa kalimat penting yang ku catat. Salah satunya adalah “Allah akan menguji seseorang pada titik terlemahnya” maka si mbak menceritakan bahwa dulu titik terlemahnya adalah masalah jodoh atau pernikahan. Otomatis cerita ini menarik apalagi dalam kelompok usroh ku yang sekarang semuanya pada belum menikah.

Oke, kembali lagi ke cerita si mbak. Orang tua si mbak sudah memberikan SIM alias Surat Izin Menikah ba’da lulus SMA. Jelas ini membuat si mbak bingung. Umur masih kecil, tawaran dari MR untuk menikah pun belum ada. Do’a dari orang tua pun selalu saja yang berhubungan dengan jodoh buat si mbak. Memasuki dunia perkuliahan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan akhirnya tahun demi tahun tak kunjung jodoh yang dinanti hadir. Singkat cerita, rasa gelisah terus menghantui si mbak lebih kurang 4 tahun (klo aq tak salah hitung). Kemudian pada Ramadhan 2007 tapatnya saat I’tikaf datanglah tawaran berta’arufan ria dengan seorang ikhwan.

Lho?! Kok bisa?! Apa saat I’tikaf si mbak terus-terusan bermunajat meminta jodoh????
o… ternyata tidak justru beliau “back to zero” alias kembali ke titik nol. Saat I’tikaf ia menghilangkan segala keinginan-keinginan duniawinya. Termasuk keinginan untuk segera menikah tentunya. Yang beliau munculkan saat I’tikaf adalah keinginan untuk berkhalwat dengan Allah semata. Keinginan untuk benar-benar berada dalam titik Rabiah al-adawiyah.

Cerita akhwat yang mendapatkan jodohnya di malam I’tikaf pernah juga ku posting di blog ini. Bagi yang belum baca silahkan saja di cari pada postingan terdahulu he….
Ya! kuncinya adalah bersabar dengan ketentuan Allah dan bawalah hati kembali ke titik nol. Serahkan semuanya kepada Allah. Rencana Allah lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Itu pesan si mbak kepada kami semua.

NB:
Bagi yang Ramadhan lalu belum merasakan nikmatnya I’tikaf . Yuk! Rame-rame kita penuh kan mesjid dengan beri’tikaf. Tapi jangan salah niat lho! Tetep niatkan hanya untuk berdua-an dengan Allah yang tercinta.

4 komentar:

Riadi Soe mengatakan...

rekomen...
Masjid Raya Batam tuh di penuhin ya...

lha..
kisahnya, ngingetin mimpi2 di ramadhan tahun lalu...
semoga menjelang ramadhan tahun ini dapat kabar baik, sebaik kabar datangnya ramadhan yang selalu di tunggu....
kalau belum datang juga kabarnya...
ya "back to zero" lagi lah katanya....

Anonim mengatakan...

ramadhan nanti tak mw lha madetin MRB. terlalu rame. gk seru. ntar aq mw nyari mesjid yang sepi. biar asyik berdua-an dengan Nya.
he....

Riadi Soe mengatakan...

yang sepi....
mana ada ramadhan masjid yang sepi....

nophe mengatakan...

maksudnya sepi, tak seramai di MRB lah....
klo di MRB tu.... terlalu rame. jarak antara org yg satu dengan yg lain tak sampe 2 meter.

Posting Komentar

Yoyen dalam Kenangan

Yoyen dalam Kenangan

 
;