Selasa, 21 September 2010 2 komentar

NGGAK TAHU!!!!

Kata “nggak tahu” punya tempat tersendiri di memory ku, dan itupun pada memory yang kurang menyenangkan. Pengalaman praktek di RS semasa mahasiswa merupakan kumpulan pengalaman yang tidak menyenangkan bagi ku. Kecuali pengalaman praktek di RSJ Pekanbaru. Kenapa?

Kata itu (red: nggak tahu) muncul di saat adrenalin meningkat dan itu keluar dari perawat-perawat yang garang. Tapi, tidak semua “nggak tahu” buruk. Toh! Itu demi kebaikan kami (red: mahasiswa) agar lebih banyak belajar. Jujur saja klo tidak tahu. Daripada berakibat fatal dengan pasien itu lebih bahaya lagi…..

Infus macet

Kali ini ruangan tempat ku dinas mendapat pasien dengan diagnosa medis stroke/ penyumbatan pembuluh darah di kepala. Pasien ini ku jemput di Emergency. Seperti biasa ku matikan dulu jalannya infus, biar darah tidak naik pada selang infus sebelum kami meninggalkan emergency. Kemudian ku bawa si pasien ke ruangannya. Lalu ku buka kembali jalan infusnya. Dari sinilah bermula emosi ku dan teman-teman satu shift ku beserta istri si pasien mulai terpancing kemudian meledak (he… bom kalee).

Waktu itu yang berada dalam ruangan itu cuma aku, pasien beserta istrinya. Setelah ku buka jalan infusnya. Ternyata macet. Yah… seperti biasa ku lakukan sedikit tarikan-tarikan. Lama…

Naiklah darah memenuhi selang infus. Lalu ku ambil perlengkapan untuk spuling. Tetep…. Aja gk bisa. Lalu ku tanyakan pada istrinya. Apa di emergency seperti ini juga?

Lalu istrinya menjawab klo di emergency pada tusukan yang ketiga baru jalan infusnya. Karena mungkin aq terlalu lama di ruangan pasien, maka TJ shift ku menyuruh teman ku yang lain bantu. Lalu datanglah kak Rahmat .

“Kenapa Nop?” Tanya kak Rahmat

“Macet kak. Dari tadi Nopa perbaiki gk bisa. Padahal baru dari emergency” jawab ku

Kak Rahmat pun mencoba memperbaikinya. Lama…..

Tapi, akhirnya bisa juga.

“nggak tahu” bikin emosian

Belum 10 menit kami meninggalkan ruangan Bapak itu. Eh, udah ada keluhan klo infus nya macet lagi.

“Tengoklah Nop” suruh kak Rahmat

Ku perbaiki….

Nihil….

Sama aja…..

Aq gk bisa.

Jadi ku tanya pada istrinya. Apa Bapak terlalu banyak bergerak. Istrinya menjawab tidak.

Hampir hilang akal aq dibuatnya. Ku panggil kak Rahmat kembali.

Hal yang sama pun terjadi. Kak Rahmat tak bisa memperbaikinya.

“Ambilkan infuse set baru Nop” pinta kak Rahmat

Ha?! Infuse set baru? Padahal baru ja dipasang.

Singkat cerita infuse set sudah diganti. Tapi, hasilnya tetap sama. Gk lancar juga tu aliran infuse. Akhirnya kami putuskan untuk menusuk ulang vena dengan meminta izin pasien dan istrinya. Semula mereka tidak mau karena trauma di tusuk terus. Tapi akhirnya mau juga.

Beberapa saat kemudian….

“Sus.. infuse nya macet lagi” keluh istri pasien

Gubrak!!!!

Kenape…. Lah dengan vena Bapak itu?

Masa’ dalam sehari udah lebih 3x macet infuse nya.

“ Lihat lah sana Nop” Suruh kak Rahmat yang udah mulai jengkel dengan kejadian ini

Seperti biasa ku perbaiki lagi…….

“Itu kenapa bisa begitu Sus?” Tanya istrinya padaku

“ Gini Bu,, dari yang sudah kami coba menusukkan infuse ke vena Bapak. Kami lihat vena Bapak ini kecil. Padahal seharusnya vena laki-laki itu besar… tapi, bisa juga ada hubungan nya dengan penyakit Bapak. Sepertinya darah Bapak kental sekali” jelas ku sambil menahan jengkel.

“Gitu kan enak dijelaskan Sus….saya pun jadi ngerti…” Tiba-tiba si istri menjawab

Badannya yang besar dan tampang seperti orang galak, sempat membuat ku kaget dengan jawaban nya itu.

“Ini nggak,, sewaktu saya tanya sama perawat yang Batak itu (red: teman satu shift) jawabannya nggak tahu sambil bentak-bentak. Saya kira pelayanan di sini bagus ternyata …emosi jadinya saya Sus. Klo saya tahu penyebabnya udah jadi dokter kali saya. Ini karena saya nggak tahu makanya saya tanya dan berobat” protes si Istri

“Iya maaf bu…” jawab ku

Si Ibu mulai open

Semula si Ibu bilang klo kami (red: perawat) kerja nggak becus dengan bahasa Minang ke suaminya.

Hhhh… emangnya aq nggak ngerti apa? Menahan emosi selama berada dalam ruangan itu. Tapi, setelah ku jelaskan sebab musabab infus suaminya macet. Si Ibu sudah mulai open. Jika si Ibu mau pulang dulu, si Ibu cuma pamit pada ku dan berpesan klo dia menitipkan suaminya. Klo ku masuk ke ruangan itu, si Ibu bertanya “ Sus masuk sore ya?”.

“Nop injeksikan dulu lah Bapak itu” Suruh kak Rahmat yang lagi sibuk nemanin dokter visite.

“Pak, saya masukkan obat dulu ya…” Ijin ku

Selesai ku injeksikan obat nya. Tiba-tiba si Ibu manggil

“Sus..sus…bentar. Ni untuk Sus” Panggil Si Ibu sambil menyerahkan bungkusan berwarna hitam

“Apa ni Bu?” Tanya ku

“Bukan apa-apa… cuma dari kampung” jelas nya

Kemudian ku buka bungkusan itu, ternyata isinya buah apel

Sabtu, 11 September 2010 2 komentar

Dengan membawa cerita yang berbeda
Sabtu, 28 Agustus 2010 2 komentar

Capek rek!



Baru ku tahu kenapa kebanyakan perawat Rumah Sakit (RS) judes dan sering bermuka masam. Ternyata beban kerja mereka luar biasa beratnya. Tidak seperti perawat di Puskesmas, Pustu, ataupun di klinik, tugas mereka lebih ringan di bandingkan di RS.

Kurang dari tiga hari ku menjalani peran sebagai karyawan alias perawat training di RS. Rasanya udah nggak kuat. Padahal praktek di RS sudah pernah kujalani sewaktu masih menjadi mahasiswa keperawatan. Tapi kali ini rasanya Cuuaapeekk banget.... Kaki serasa nyut-nyutan. Padahal sudah sengaja mengganti sepatu yang lebih ceper ternyata belum mempan juga (T_T).


Sabtu (28/8) ku dinas di Unit Gawat Darurat (UGD), lumayan asyik. tidak banyak berdiri dan berjalan. Perawat seniornya pun asyik-asyik. Yang buat suasana kerja lebih cair saat itu adalah munculnya wacana ketidak samarata-an dalam pembagian air kaleng sebagai jatah lebaran bagi seluruh karyawan RS. Perawat di Poli dan di UGD tidak mendapat jatah minuman seperti para perawat di Ruang perawatan dan di ICU. Jadi rame tuh UGD dengan suara ketawa dan protes para perawat Poli dan UGD yang notabene adalah perawat yang paling lama mengabdi di RS tersebut.

Cukup empat hari ku menjalani masa orientasi di RS. Dan akhirnya diputuskan lah penempatan ku di mana. Karena salah satu perawat di Ruang Perawatan lantai III baru saja mengundurkan diri, maka aku ditugaskan menggantikan posisi beliau.
Fiuh.... Dinas di ruangan bangsal...
Makin gempor aja nih kaki.,,,,
Jumat, 20 Agustus 2010 5 komentar

Gara-Gara Bang Rijal :)

Menyambung tulisan “Gara-gara Mentoring” yang lalu. Ku buka tulisan kali ini dengan sedikit muqoddimah.

Membentuk keluarga adalah fitrah bagi manusia. Tipe keluarga seperti apa yang akan dibentuk merupakan pilihan bebas bagi yang menjalaninya. Tergantung sejauh mana visi dan misi anda menikah. Sayang, banyak dari kaum muslim sekarang menikah hanya menurut kecenderungan naluriahnya. Padahal umat saat ini sangat mengharapkan generasi yang akan membangkitkan mereka. Generasi kebangkitan akan dapat terwujud dari keluarga yang dibentuk di atas paradigma pembentukan keluarga yang terpancar dari pandangan hidup Islam. Namun gambaran tuntunan Islam itu sudah kabur di dalam benak banyak orang dari kaum muslim. Maka suatu kewajibanlah untuk menjelaskan kepada umat. Proses paling awal dalam membentuk keluarga adalah memilih pasangan dan meminang.

Yah, kira-kira segitu saja muqoddimah yang saya edit dengan bahasa sendiri tanpa mengurangi maksud dari penulis.

Siang itu (19/8) aku duduk diantara antrian orang-orang yang akan mengurus surat-surat penting atau dengan kata lain aku sedang berada di kantor kecamatan Bengkong. Fiuh… menunggu untuk mendapatkan legalitas sebuah surat. Perlu sabar melihat cara kerja para pegawai itu. Apalagi menunggu adalah hal yang ku benci tapi ditunggu merupakan hal yang lebih ku benci. Jadi jika dihadapkan dengan dua pilihan itu aku lebih baik milih untuk menunggu. Melihat para pegawai yang mondar-mandir buka pintu membuat ku pusing, ku alihkan perhatian untuk membuka buku “Capita Selecta KAMMI: membumikan ideologi menginspirasi Indonesia, karangan Rijalul Imam dkk”. Buku yang belum sempat ku khatamkan.

(Agak sedikit menyimpang) “Tafsir Epistemologi Prinsip Gerakan KAMMI, Rijalul Imam” merupakan sub judul yang ku baca saat itu. Di dalam pembahasan ini bang Rijal (he… sok akrab!) menuliskan ada 6 mihwar (poros) gerakan KAMMI dalam membangun Indonesia. Pertama fase ideologi (1980-1998), kedua fase resistensi (1998-2004), ketiga fase reformulasi (2004-2009), keempat fase rekonstruksi (2009-2014), kelima fase leaderisasi (2014-2019), keenam fase internasionalisasi (2019-2024). Bagi ku bahasan ini cukup menarik, perhatikan tahun-tahunnya. Berada di fase apakah kita? Yup! Benar kita berada di fase rekonstruksi. Tahun 2009 adalah fase titik balik yang menentukan. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang pasti setiap gerakan harus memiliki rencana strategis (renstra). Renstra di lima tahun ke depan adalah menggulirkan Narasi Rekonstruksi Kebangsaan. Pada akhir bahasan ini bang Rijal menuliskan bahwa KAMMI harus merekonstruk kader-kadernya meningkatkan keahlian di bidangnya dan bergerak sesuai kompetensinya. Kelak, kader yang kompeten di bidang ekonomi syariah bekerja keras memperbaiki resesi ekonomi di sektor real dan makro. Kader di kedokteran pun bekerja memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat dsb.

(Kembali ke jalan yang benar he… maksudnya kembali ke pokok bahasan) Akhir tahun 2010 ini usiaku genap 23 tahun. Berarti fase rekonstruksi berakhir saat ku berusia 27 tahun. Kemudian menginjak tahun ke-28 aku berada di fase leaderisasi, fase dimana bila dari tahun 2009-2014 KAMMI beserta para alumninya berhasil merekonstruksi bangsa ini maka hanya kepercayaan yang akan diberikan masyarakat pada KAMMI untuk memimpin negeri ini. Tentu pada fase leaderisasi ini usia kader dan alumni KAMMI sudah tidak hanya 20 tahun melainkan sudah ada yang seusia 30-an. Glekk!! Tiba-tiba ku terhentak. Apa tahun 2014 kader KAMMI akan semakin banyak??? Mengingat mahasiswa sekarang tidak seheroik dulu, tidak seidealis dulu. Begitu banyak prasangka-prasangka negatif yang muncul di benak. Lalu ku merujuk pada salah satu tulisan di atas “Generasi kebangkitan akan dapat terwujud dari keluarga yang dibentuk di atas paradigma pembentukan keluarga yang terpancar dari pandangan hidup Islam”. Wah… nancep banget nie kalimat. Salah satu solusi dari ketakutan-ketakutan ku itu ya memilih pasangan yang baik agamanya untuk menjadi teman hidup.

Bersambung lagi cank…

Minggu, 15 Agustus 2010 8 komentar

Gara-Gara Mentoring

Menjadi mentor untuk anak-anak SMA baru bagiku. Sekitar lima bulan yang lalu aku diberi kesempatan menjadi mentor di SMA ku dulu. Pertemuan perdana dengan mereka membuat ku tersentak dengan pertanyaan-pertanyaan dari mereka. Yah… pertanyaan mereka tidak jauh-jauh dari seputar percintaan. Lumayan menggelitik pertanyaan mereka, semuanya berhubungan dengan wacana dilarangnya berpacaran.Pertanyaan ini tidak pernah muncul pada zaman aku dan teman-teman menjadi peserta mentoring. Karena kami tidak pernah tahu kalau pacaran itu dilarang dalam agama. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam yang dulu asing di kalangan anak remaja sekarang sudah sangat familiar di telinga mereka. Yah, walaupun mereka belum tentu juga faham akan hal itu.
Masih hari pertama, jadi ku gunakan untuk berta’arufan dengan mereka. Sekaligus sharing mengenai perkembangan ROHIS beberapa tahun belakangan.

Sesi Tanya Jawab

“ Kak, bener ya pacaran itu tidak boleh?” Tanya salah satu peserta mentoring dengan serius
“ Siapa bilang? Boleh kok!?” jawab ku dengan PeDe nya
???????????????????????
tampaklah muka mereka yang keheran-heranan. Langsung saja ku sambung.
“Pacaran itu boleh asal setelah menikah, malah itu wajib” lanjut ku
“Oooooo…..” tanggap mereka serentak
“Trus klo nggak pacaran lewat apa donk kak?”
“Ya ta’aruf, kalian pernah dengar kata ini kan?”
“Pernah sih kak…, tapi ta’aruf itu seperti apa?”
Glekkkk!!!!
Ta’aruf itu seperti apa ya?? wong aku belum pernah menjalaninya. Gimana ku bisa kasih tahu kronologisnya.

Akhirnya, dengan berat hati ku jujur mengatakan pada mereka bahwa aku tidak begitu tahu detail ta’arufan sebelum menikah itu seperti apa. Jadi yang kusampaikan pada mereka adalah proses yang pernah ku dengar dari Murobbiyah dan temen-temen satu usroh ku dulu. Alias ala kadarnya, tidak begitu lengkap.Dari kejadian itu, ku agak sedikit menyesal. Karena dari dulu ku paling ogah-ogahan membeli buku yang berhubungan dengan pernikahan. Jangankan membeli lalu membacanya. Membicarakannya atau membahasnya pun ku malas. Tidak berminat. Sampai-sampai ku tak berminat lagi membaca novel-novel Islami. Karena bisa ku tebak akhir ceritanya. Klo nggak sad ending dengan kematian ya….. happy ending dengan pernikahan dan poligami. Betul tidak?! He…
Akhirnya karena kebutuhan inilah aku membeli dua buku tentang pernikahan. Satu untuk kado pernikahannya Kak Dodi dan yang satu lagi untuk ku baca-baca. Lumayan bisa buat bekal ku nanti. Aku lupa judul buku yang ku kasih untuk kak Dodi, tapi judul buku untuk ku adalah “Risalah Khitbah: Konsep Paradigmatik dalam Memilih Pasangan dan Meminang, karangan Yahya Abdurrahman”. Aku membalinya awal Juli 2010, baru Ramadhan ini ku sempat membacanya. Itu pun tidak ku baca dengan berurutan. Yang jelas Muqaddimah atau kata pengantar selalu ku baca duluan. Biar ku tahu apa tujuan si penulis memakai judul itu sebagai judul besar di bukunya. Kemudian ku membaca daftar isi nya, kira-kira subjudul mana yang paling menarik untuk bisa dibaca terlebih dahulu.
Lalu ku pilih sub judul “Inikah Saatnya?”. Ada rasa ingin tahu dalam diriku. Apakah diriku sudah termasuk yang disunnahkan untuk menikah? Ataukah hukum wajib sudah jatuh pada ku? Atau hukum haram kah yang sekarang ku sandang? Jika aku termasuk yang disunnahkan/diwajibkan untuk menikah maka ku bulatkan tekad untuk segera menuliskan CV dari Murobbiyah yang sudah berminggu-minggu terlantar di tumpukan buku-buku.
Bersambung cink….
Jumat, 13 Agustus 2010 2 komentar

Aku Menyerah


Aku sudah kalah

Kalah dalam pertandingan keyakinan dan ketekad-tan

Kalah dalam memperjuangkan apa yang ku mau

Sekarang

Hanya bisa pasrah

Hanya bisa mengikuti

Sekarang

Aq berada dalam “back to zero”

Kosong …..

Lelah…..

Berat untuk bisa tersenyum lepas

Hanya bisa menangis dalam kesendirian

Hanya bisa menyalahkan diri sendiri

Berjalan sendiri dengan menundukkan kepala

Menutup muka

Malu dengan dunia

Terlambat!

Kesempatan masa lalu tak bisa terulang

Untuk ku jalankan

Rahasia apakah ini ya Allah…..

Coretan hati ba’da curhat dengan Nya

Di dini hari pada bulan Ramadhan

Hamba yang lemah

Selasa, 10 Agustus 2010 6 komentar

Berbuat untuk siapa dan untuk apa?

  1. Apa yang bisa diperbuat seorang anak perempuan untuk membahagiakan orang tuanya?
  2. Apa yang bisa diperbuat seorang kakak perempuan untuk membahagiakan orang tua dan adik-adiknya?
  3. Apa yang bisa diperbuat seorang gadis untuk membahagiakan orang tuanya?
  4. Apa yang bisa diperbuat seorang istri untuk membahagiakan orang tua, mertua, suami, adik kandung dan iparnya?
  5. Apa yang bisa diperbuat seorang ibu untuk membahagiakan suami dan anak-anaknya?

Haruskah wanita yang banyak berkorban untuk orang lain????
Jumat, 06 Agustus 2010 2 komentar
Tahun 2010 tahun yang BERAT !!!
Rabu, 21 Juli 2010 4 komentar

Takuuutt....

Baru beberapa hari yang lalu aku menerima soft copy an materi-materi dari kegiatan pelatihan Forum Kader Pengembang Moral Etika Pemuda Indonesia (FKAPMEPI) Kepulauan Riau tepatnya tanggal 17Juli 2010. Keesokan harinya baru ku buka satu persatu. Mencoba melihat kembali materi-materi yang sudah ku dapat dari pelatihan kemarin. Tibalah pada sebuah folder yang berjudul penyucian jiwa. Seperti judulnya semua isinya tentang perenungan jiwa. Dan saat ku membuka file dengan type MPEG video format yang berjudul “sakarat-su’ul khotimah” . Terus-terang membuat ku takut untuk membukanya kembali. Aneh! Padahal selama ini aku sering menghadapi orang yang akan sakaratul maut bahkan membersihkan jenazah sebelum dibawa oleh keluarganya pun sudah kujalani. Tapi, kenapa untuk menonton film ini kembali tak berani ya?

Isi dalam video tersebut kurang lebih bercerita tentang kisah nyata dari dua pesepak bola handal yang mati saat berada di lapangan. Salah satu keadaan dari mereka (red:pesepak bola) saat menghadapi sakaratul maut seperti seekor ayam yang baru disembelih (maaf tak bisa kulanjutkan bagaimana tragis ceritanya karena benar-benar menakutkan bagiku. Kalau mau tahu tonton sendiri aja ya…). Ku coba memposisikan diriku seperti beliau, mati dalam keadaan sakaratul nya binatang. Astaghfirullah, membuatku sadar bahwa aku di dunia ini cuma sementara. Jika kenikmatan hidup ini hendak Allah cabut dari ku. Tak seorang pun mampu menahannya barang sedetik pun. na’udzubillahimindzalik. Aku berlindung kepada Mu ya Allah dari su’ul khotimah.

Ternyata memang benar ungkapan yang mengatakan orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengingat mati. Ia akan terus berusaha menjadi orang yang terbaik selama ia hidup. Tidak takut apapun kecuali pada Nya.
4 komentar

Back 2 Zero

S-A-B-A-R.
Cuma 5 huruf tapi ngejalaninya seberat 5 ton atau mungkin lebih tergantung siapa yang menjalaninya. Lima huruf di atas adalah materi usrohku minggu lalu. Luar biasa mbak ku ini. Kalimat-kalimatnya begitu dalam, begitu keras menusukkan isi materi ke qolbu. Begitu kuat nuansa ruhiyahnya sehingga bulu romaku pun ikut berdiri. Tak lupa pula beliau menyelipkan kisah-kisah nyata sehingga menambah dramatisasi usroh kami pada hari itu.

Ada beberapa kalimat penting yang ku catat. Salah satunya adalah “Allah akan menguji seseorang pada titik terlemahnya” maka si mbak menceritakan bahwa dulu titik terlemahnya adalah masalah jodoh atau pernikahan. Otomatis cerita ini menarik apalagi dalam kelompok usroh ku yang sekarang semuanya pada belum menikah.

Oke, kembali lagi ke cerita si mbak. Orang tua si mbak sudah memberikan SIM alias Surat Izin Menikah ba’da lulus SMA. Jelas ini membuat si mbak bingung. Umur masih kecil, tawaran dari MR untuk menikah pun belum ada. Do’a dari orang tua pun selalu saja yang berhubungan dengan jodoh buat si mbak. Memasuki dunia perkuliahan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan akhirnya tahun demi tahun tak kunjung jodoh yang dinanti hadir. Singkat cerita, rasa gelisah terus menghantui si mbak lebih kurang 4 tahun (klo aq tak salah hitung). Kemudian pada Ramadhan 2007 tapatnya saat I’tikaf datanglah tawaran berta’arufan ria dengan seorang ikhwan.

Lho?! Kok bisa?! Apa saat I’tikaf si mbak terus-terusan bermunajat meminta jodoh????
o… ternyata tidak justru beliau “back to zero” alias kembali ke titik nol. Saat I’tikaf ia menghilangkan segala keinginan-keinginan duniawinya. Termasuk keinginan untuk segera menikah tentunya. Yang beliau munculkan saat I’tikaf adalah keinginan untuk berkhalwat dengan Allah semata. Keinginan untuk benar-benar berada dalam titik Rabiah al-adawiyah.

Cerita akhwat yang mendapatkan jodohnya di malam I’tikaf pernah juga ku posting di blog ini. Bagi yang belum baca silahkan saja di cari pada postingan terdahulu he….
Ya! kuncinya adalah bersabar dengan ketentuan Allah dan bawalah hati kembali ke titik nol. Serahkan semuanya kepada Allah. Rencana Allah lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Itu pesan si mbak kepada kami semua.

NB:
Bagi yang Ramadhan lalu belum merasakan nikmatnya I’tikaf . Yuk! Rame-rame kita penuh kan mesjid dengan beri’tikaf. Tapi jangan salah niat lho! Tetep niatkan hanya untuk berdua-an dengan Allah yang tercinta.
Jumat, 16 Juli 2010 1 komentar

Shalih Berjamaah

Rasulullah pernah bersabda. “Aku berlindung kepada Allah terhadap lima perkara yang aku takuti akan menimpa kalian.

Pertama, jika perbuatan mesum dan perzinahan dalam suatu negeri sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul azab berupa wabah penyakit aneh yang belum pernah menimpa orang-orang yang terdahulu.

Kedua, jika suatu kaum menolak berzakat, maka Allah akan menghentikan turunnya hujan dan menimpakan paceklik yang berkepanjangan.

Ketiga, jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, maka Allah akan menurunkan kezaliman, kefakiran dan huru-hara.

Keempat, jika para penguasa tidak berhukum terhadap hokum Allah, maka Allah akan menciptakan musuh-musuh lain untuk memerintah mereka dan merampas harta-harta kekayaan mereka.

Kelima, jika janji tidak ditepati, menyia-nyiakan amanah, maka Allah akan menurunkan permusuhan, perpecahan dan pemberontakan.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).


Bercermin dari kelima peringatan di atas, maka sudah seharusnya orang-orang shalih tidak berdiam diri berpangku tangan. Jangan berpuas diri karena sudah shalat dan naik haji. Karena dalam hadits di atas menunjukkan pentingnya dakwah bil hal. Pentingnya keshalihan berjamaah. Shalih yang tidak hanya untuk pribadi tapi keshalihan dalam bentuk sosial (Sabili, 2010)

Senin, 05 Juli 2010 2 komentar
Merindukan untuk mendapatkan pasangan hidup sudah merupakan sunatullah & fitrah setiap insan yang beriman. Rasulullah bersabda:"Barangsiapa senang terhadap sunnahku, maka hendaklah ia mengikuti sunnahku, & sesungguhnya diantara sunnahku adalah MENIKAH"(HR Al-Baihaqi).

Assalamu'alaikum...
Ikhwahfillah yang dimuliakan Allah, mohon doa & restu atas pernikahan kami:

Titik Agus
&
Muh. Alim (Anggota KAMMI Batam)

yang insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari Sabtu, 10 Juli 2010 (Akad Nikah)
Hari Ahad, 11 Juli 2010 (Walimatur'us)
Bertempat di dusun Sumber Agung, Nganjuk, Jawa Timur

Mudah-mudahan menjadi keluarga SAMARADA (Sakinah, Mawaddah, Warohmah & Dakwah)
Hormat kami (Titik&Alim)
Rabu, 30 Juni 2010 7 komentar

BERAMBUS SANA!!!

HadOoooohh....
Mimpi ape lah semalam?
Hari nie banyak kali aq dengar orang - orang pada pacaran.
Ada yang CBSA (Cinta Bersemi Sesama Aktivis), ada pula seorang aktivis dakwah senior pacaran dengan orang amah.
GEDUBRAK!!!!
Malu............................................................................................................................

Kate pak Ustadz. Kasih due pilihan aje... sama si terdakwa. Nikah ato lepaskan pasangan nya.
Buang aje tu orang dari wajihah dakwah nie. Kaderisasi udah bekerja serius merekrut kader, eh si aktivis malah mencemarkan nama baik nya si wajihah dakwah ini di depan calon kader.

GERAM !!!
Selasa, 29 Juni 2010 0 komentar

DEK SUNATAN YUK!

Bagi para orang tua yang memiliki anak laki-laki yang belum baligh biasanya memanfaatkan liburan sekolah sebagai moment untuk khitanan. Oleh sebab itu, PT UNICEF dan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai tipe 8 Batam bekerjasama dengan Dompet Sosial Ulil Albab (DSUA) Batam mengadakan khitanan massal. PT UNICEF mengadakan pada hari Ahad 27 Juni 2010 sedangkan Bea cukai pada hari Senin 28 Juni 2010.

Survey mini.

Setiap berpartisipasi dalam khitanan massal selalu saja ada pengalaman unik yang ku dapat. Tapi, ada pula pemandangan yang sama setiap kali nya di khitanan. Seperti, anak-anak yang menangis meraung-raung karena tidak mau di sunat.
“Aku nggak mau disunat!!!” berontak seorang anak dengan air mata yang sudah mengalir.
“B*r*ng ku nggak mau dipotong!!!”
“Aku nggak mau disuntik!!!”
“Sakit……. Aku jangan disuntik!” pinta anak dengan muka memelas.
Pada saat pertama kali berpartisipasi dalam kegiatan khitanan, sempat timbul rasa tidak tega.
Aduh! Nggak tega ni, pikir ku
Tapi, alah tega karena biasa. Jadi sekarang muka-muka anak yang memelas sambil menangis, meraung-raung nggak mempan lagi buat ku untuk tidak tega menyunat mereka. Apresiasi ku, aku berikan pada anak-anak yang kooperatif saat terjadi tragedi pemotongan (ha..ha..)
Di saat khitanan, aq melakukan survey perbandingan mini. Hasil survey ku adalah hampir semua anak dari pasangan ikhwah ato salafi ato JT lebih banyak melakukan pemberontakan. Banyak meraung-raung, penakutnya na’udzubillah… berbeda dengan anak dari pasangan amah. Anak nya lebih berani, dan kooperatif. Kenapa bisa begitu ya?!
Kamis, 24 Juni 2010 0 komentar


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Barokallohu laka, wabaroka 'alaika wa jama'a bainakuma fil khoir...
Menautkan dua hati dalam ikatan suci yang halal melalui pernikahan,
semoga jadi ladang amal menuju jalan-Nya.
Mengundang teman-teman KAMMI Batam pada pernikahan :

Yelmita Fitri, AMK
dengan
Dodi Nanda Zam, AMK

dengan akad nikah yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:
Hari/ tanggal : Sabtu/ 3 Juli 2010
Pukul : 09.00 WIB
Tempat : Mesjid Al Munawaroh Bengkong Harapan

dan Walimatul ursy dilaksanakan pada:
Hari/ tanggal : SDA
Pukul : 10.00 WIB s/d selesai
Tempat : Bengkong Harapan II blok J no.29
Rabu, 23 Juni 2010 7 komentar

MIMPI 1000 KADER: MELAHIRKAN LEDAKAN IDE LUAR BIASA

Tesis utama Frans Johansson adalah bahwa jika berbagai bidang, disiplin ilmu, dan budaya dipadukan akan terwujud semacam ledakan ide yang luar biasa (Frans Johansson, 2007).

Pada kalimat di atas terdapat kata “ledakan” yang membuat ku tertarik. Sebenarnya bukan kali ini aku tertarik dengan kata itu. Ketertarikan itu sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu setelah membaca buku Quantum Tarbiyah. Entah kenapa telinga ini begitu tertarik dengan kata tersebut. Kali ini bukan membahas alasan kenapa aku suka kata “ledakan”. Akan tetapi, aku akan sedikit membahas kalimat di atas. Yang mudah-mudahan bisa memberikan sedikit warna di dalam perjuangan KAMMI Komisariat Batam khususnya di bidang pengkaderan.

Kota Batam yang memiliki lebih kurang 20 kampus merupakan asset terbesar dalam menyumbangkan banyak kader KAMMI bila dibandingkan dengan wilayah Kepri lain seperti Tg. Pinang, Bintan, dan Karimun. Seharusnya bisa menjadi cambuk penyemangat KAMMI Komsat Batam khususnya Departemen Kaderisasi yang membawahi langsung tugas perekrutan kader. Apalagi target pengkaderan untuk Kepri tahun ini adalah 1000 kader. Oleh sebab itu, dibutuhkan kerja yang ekstra dari Departemen Kaderisasi. 1000 kader ?! it’s a big dream. Apalagi dengan umur KAMMI Komsat Batam yang masih sangat muda. Belum genap berusia 3 tahun. Kalau dalam mata kuliah Keperawatan Anak usia ini disebut BATITA (Bayi di bawah tiga tahun). Tidak apa-apa, bermimpilah yang besar mumpung gratis!!! Tapi bermimpi harus dibarengi dengan kerja nyata. Semakin besar mimpi yang ingin diwujudkan maka semakin besar pula perjuangan kita untuk merealisasikannya. Karena perjuangan hari ini untuk cita-cita hari esok dan cita-cita hari esok adalah langkah nyata kita hari ini (Musyaddad, 2010).

Pada awal terbentuknya KAMMI Komsat Batam pada tanggal 27 Desember 2007, KAMMI Batam hanya memiliki kader di dua kampus saja. Yaitu Politeknik Batam dan Akper Mitra Bunda Persada (AMBP) Batam. Dengan jumlah alumni DM 1 sebanyak 11 orang. Setelah dua tahun dilewati Alhamdulillah KAMMI Komsat Batam (KomBat) pun telah memiliki kader di enam kampus. Yaitu Politeknik Batam, STIKES Mitra Bunda Persada, Universitas Batam (UNIBA), Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA), FT. Universitas Maritim Raja Haji (FT. UMRAH), dan Universitas Internasional Batam (UIB). Dengan banyaknya kader dari berbagai macam kampus tergabung di KAMMI KomBat. Otomatis berbagai macam jurusan, keahlian dan latar belakang kader bisa menambah keragaman KAMMI KomBat itu sendiri. Yang pada akhirnya bisa melahirkan “ledakan” ide yang luar biasa. Seperti tesis utama yang ditulis oleh Johansson.

Bisa dibayangkan jika setiap kampus di Batam memiliki kader KAMMI, maka KAMMI KomBat bisa menyumbangkan ide luar biasa dalam perbaikan kota Batam khususnya. Karena pada dasarnya mahasiswa mempunyai peran-peran strategis, antara lain: Moral Force (kekuatan moral), Agent of Change (agen peubah), People Power (Kekuatan rakyat), Iron Stock (cadangan nasional), dan yang terakhir Guardian of Value (Pengawal nilai-nilai). Dimana hingga saat ini mahasiswa Batam belum mengamalkan peran-perannya tersebut. Jangankan mengamalkan, mengetahuinya pun tidak. Karena mahasiswa Batam mindset nya sudah terbentuk sejak dibangku sekolah. Bahwa kuliah harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya dengan nilai setinggi-tingginya kemudian wisuda dengan IPK yang tinggi lalu mencari kerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Itulah yang dikatakan mahasiswa sukses. Jadi bisa dibilang mereka termasuk mahasiswa apatis. Berbagai macam alasan yang mereka utarakan jika diajak untuk gabung dalam organisasi. Dari alasan orang tua yang tidak mengizinkan hingga jam kuliah yang terlalu padat dan tugas kuliah yang menumpuk. Jam kuliah yang terlalu padat dan tugas kuliah yang menumpuk?! Alasan yang sangat klasik. Jawaban yang biasa aku keluarkan adalah yang menjadi mahasiswa bukan kalian doang. Sudah dari zaman baheula, manusia terdahulu sudah kuliah dan mereka juga aktif berorganisasi. Dengan menyandang prestasi akademis yang memukau pula. Tugas yang menumpuk itu karena kebiasaan buruk kalian yang suka menunda-nunda tugas. Besok akan dikumpul malam ini pula kalian baru mengerjakan nya.

Kita tidak bisa pula menyalahkan mereka (red: mahasiswa apatis) karena tidak mahu bergabung dalam menyelesaikan Pe-eR perubahan ini. Itulah warna-warni dunia kampus, warna-warni dunia pergerakan. Hanya manusia yang gelisah, kuat dan sabar yang bisa terus bertahan hingga ke garis finish perubahan. Seperti slogan heroiknya KAMMI “Bergerak Tuntaskan Perubahan!”.
Jumat, 18 Juni 2010 1 komentar

As-Syifaa






Selasa, 15 Juni 2010 4 komentar

Kucing-Kucingan dengan Kucing




Tadi siang dengan tergopoh-gopoh ibu ku datang ke hadapan ku. Ada sesuatu di tangannya yang ia bawa dari luar rumah. Owalan… ibu ku membawa seekor anak kucing liar rupanya. Warna nya belang perpaduan putih dan oranye, tapi warna yang dominan adalah putih. Sudah lama ibu ku mengamati anak kucing tersebut. Kalau tidak salah hitung ada 3 ekor anak kucing. Mereka tinggal di rumah kosong di sebelah rumah ku. Ada warna hitam pekat sedikit putihnya, trus ada pula warna hitam keabu-abu an. Ketiga-tiganya lincah banget. Susah nak ditangkap.

“Nih kasih makan trus jangan lupa kasih sedikit (maaf) air liur” Pesan ibu ku

Tak perlu menunggu lama, nasi buat si kucing pun telah siap aku buat. Tak lupa sedikit air liur. Kata ibu ku sih dikasih air liur biar tu kucing selalu ingat dengan orang yang kasih dia makan jadi tu kucing bisa jadi hewan peliharaan kami di rumah. Ya… aku sih percaya aja, karena udah terbukti. He….



Wes, setelah makan tu kucing pun lari dengan lincahnya. Tapi, dia bukan pergi ke luar rumah malah ngumpet di kamar utama. Singkat cerita kira-kira 3 jam-an adalah kucing di dalam kamar. Aku dan ibu ku pun heran betah amat tu kucing di dalam. Ku panggil-panggil tu kucing tak muncul-muncul.

Apa sudah keluar ya? Pikir ku

Ternyata belum, kucing mungil itu ternyata takut keluar. Kami pun menunggu-nunggu kucing itu keluar kamar. Tapi tetap aja nggak muncul-muncul. Tak lama kemudian datang anak kucing lagi yang berwarna hitam pekat sedikit putih. Ingin ikut makan di piring tempat sodaranya makan tadi juga. Tiba-tiba adik ku Lisa datang ke tempat kucing hitam itu makan, dengan lincah si kucing itu pun lari. Begitu seterusnya. Jika dapur kosong si kucing datang dan dengan cepat pula si kucing lari jika kami datang ke dapur. Cape deh…

Kembali lagi ke cerita kucing yang di kamar. Tak bisa kami temukan tempat persembunyian nya. Sudah kami susuri bagian-bagian kamar tapi tak ketemu juga. Kemudian ibu ku punya inisiatif untuk mematikan semua lampu ruangan dan TV kemudian kami di suruh untuk ke luar rumah. Eh, ternyata emang bener. Tu kucing mau juga keluar. Tapi, sayang beribu sayang kucing itu kaget sama suara ku. Jadinya masuk lagi ke kamar utama. Terpaksa strategi tadi diulang dari awal. Padahal nunggu tu anak kucing keluar lamaaaaaaaaaaaaaa banget!

Adzan maghrib pun sudah berkumandang. Kami sudah shalat dan tilawah tapi tu anak kucing belum keluar juga dari rumah. Sekitar jam 19-an baru lah tu anak kucing bisa aku keluarkan. Berkat kerjasama antara aku dan ibu ku. Wkwkwkwk. Memang kami tim yang solid.

Beuh….!! Baru ja kucing putih keluar anak kucing hitam keabu-abu an pun mau curi-curi masuk dapur lagi. Ckckck. Memang tu anak kucing pemalu betul lah… kalau mau makan. Sok, atuh masuk terus meong-meong pasti dah aku ambilkan makanan buat mereka. Tapi karena masuk nya takut-takut dan sembunyi-sembunyi jadinya ya…. tu kucing sendiri yang sengsara. Haha…

Mungkin maksud dari kalimat “maen kucing-kucingan” yang biasa diucapkan buat sesuatu yang berkonotasi negatif tu seperti ini kali ya…?! mahu dengan sesuatu tapi takut ketahuan orang lain, jadinya maen belakang. Ujung-ujungnya sengsara sendiri. Maybe….
Senin, 07 Juni 2010 3 komentar

Do'a (yang sudah dikabulkan)

Alhamdulillah wa syukurillah.
Ahad (6/6) lalu salah satu harapan ku sudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Ahad lalu merupakan langkah awal dalam membuka lembaran baru yang sempat kelam lebih kurang 2 tahun lamanya.
Ahad lalu semangat yang dulu sempat tenggelam kini kembali hadir, dengan semangat yang lebih membaja dari yang sebelumnya.
Ahad lalu menjadi bukti sejarah, bahwa emas tetaplah emas walau berada di dalam lumpur sekalipun.
Love U Allah....
Sabtu, 29 Mei 2010 2 komentar

Ingin Mandiri

Sudah lama juga tidak menulis di blog ini. Entah kenapa inspirasi tak muncul untuk mengetik sepatah dua patah kata yang akan dituang ke lahan ms.word kemudian disetor ke lahan blogspot ini. Apa mungkin karena Yoyen sudah almarhum, jadi kemampuan mencipta yel-yel dan curhat melalui tulisan sudah menjadi tumpul (wkwkwk ngarang kali alasannya).


Jadi inget dengan blog nya teman di seberang pulau. Kalau tidak salah isi blognya tentang mandiri nya seseorang jika dia pergi dari daerah asalnya. Isi blognya sedikit banyak membuat ku tersinggung. Karena dari kecil ku tak pernah berpisah dengan ortu dalam waktu yang lama. Paling lama Cuma 3 minggu itupun karena aku harus praktek di RSJ Pekanbaru. Belum lagi genap 2 minggu di Pekanbaru aku sudah sakit (hehe.. bukan karena kangen ortu lho! Tapi karena tiap hari harus menghirup asap rokok). Bapak ku yang begitu menelepon dari Batam langsung khawatir dengan anak sulungnya ini karena suara ku berubah jadi serak-serak banjir plus batuk yang nggak karuan bunyinya. Sehabis ditelepon, tes..tes.. udah jatuh aja tuh air mata. Malu dengan teman-teman segera ku hapus air mata yang sudah terlanjur turun itu. Oh ya, pernah juga sih pisah lama tapi Cuma 3 minggu juga. Pisah untuk Praktek Belajar Lapangan (PBL) kalau istilah teman-teman di universitas ya KKN. Tapi yang ini beda, ortu bahkan temen pun bisa jenguk kita karena lokasi PBL dekat dari rumah kami (red:mahasiswa)  PBL yang aneh!. Jadi seminggu sekali ortu ku datang untuk melihat anaknya ini. Apa tambah kurus karena tak ada yang masakin, atau sakit-sakitan atau kekurangan hepeng. Sebelum ortu datang ke tempat tinggal ku, aku sudah berpesan dulu agar dibawakan makanan rumah. Kangen juga dengan masakan rumah plus tambahan uang saku.


Nggak kebayang juga kalau aku harus pisah dengan ortu dalam waktu tahunan. Nggak ada yang ngatur, nggak ada yang masakin, nggak ada yang bangunin, nggak ada yang marahin, nggak ada yang jagain, nggak ada yang bisa diajak debat sambil saling menghina. Hehe….
Tapi, karena sering dengan ortu aku jadi agak kurang mandiri. Sampai sekarang aku n**ak pandai m*s*k, klo nggak ada yang marahin mungkin jam tidur ku sangat berantakan.


Sekarang aku sudah BESARrr. Malu juga masih dibawah ketiak emak dan bapak. Bagaimana pula mau nikah kalau apa-apa masih minta dengan mereka berdua. Kecuali minta restu …. He… so, aku musti mandiri. Baik mandiri dari segi ekonomi, tempat tinggal, memenuhi “kampung tengah”, mandiri dari jam tidur dan bangun, mengurus rumah etc. Bagaimana caranya? Salah satunya tinggal jauh dari mereka berdua. Daerah yang tidak terlalu jauh dari Batam dan tidak bisa ditempuh terlalu sering yaitu Tg. Pinang dan sekitarnya. Itu salah satu tempat yang ku tuju sebagai tempat belajar hidup mandiri. Yeaahh do’a kan saya ya  gaya orang Jepang saat mengikuti lomba. Tapi tempat yang dari SMA sudah ku lirik adalah daerah Bandung surganya kuliner dan mode. Pasti persaingan hidupnya lebih ketat lagi. Well, we will see. Kita lihat kemana kaki ini akan melangkah mengikuti panggilan alam  apa sih maksudnya nop?!?.
By the way, terus terang aku juga bosan di Batam. Lahir di Batam, besar di Batam, sekolah di Batam, kuliah di Batam, kerja di Batam, nikah di ???? hadooohhh!! Teruk, teruk, teruk.


Hampir semua teman SMA, kuliah di luar Batam. Bahkan ada yang tak pulang lagi ke Batam. Teman-teman ROHIS khususnya berpesan dengan ku yang mungkin hanya satu-satunya yang masih menetap di Batam.
“Nophe…. Jagain ROHIS SMANSA ya….. tetap pantau adek-adek ya….”
“Nophe …. Tolong bantu adek-adek ROHIS SMANSA, mereka mau bikin kegiatan tuh…”
“Nophe…. Kabar SMANSA gimana? Mentoring masih jalankan?”’
“Nophe….Nophe….Nophe…………………………………………………”
Fiuh…. Cape deh……
Mereka pertama kali bukan menanyakan kabar ku, malah kabar ROHIS SMANSA. Dasar! Temen2 gk sensitif nieee….. bukan kabar temannya yg ditanya malah kabar orang lain.
Nah! Kira-kira seperti itulah nasib ku sebagai orang yang masih tertinggal dinegeri asal. Hiks..hikss…

Yoyen dalam Kenangan

Yoyen dalam Kenangan

 
;