Dia bisa egois
Dia bisa malas kerja
Dia bisa tidak peka
Dia bisa salah
Dia bisa ....... segala nya, karena dia manusia biasa juga
Nasehat 'tuk para akhwat yang berstatus single
jangan sampai "buta" melihat seorang ikhwan yang akan menjadi suami mu kelak
Pada saat ta'aruf lha disana kau dituntut 'tuk betul-betul mengenal calon suami dan ayah dari anak-anak mu
Jangan ragu 'tuk mencari tau dengan orang-orang yang berada di sekitarnya
Jangan malu 'tuk bertanya kepada yang lebih berpengalaman
dalam menjalani biduk rumah tangga
Menikah itu tak selamanya indah kawan
Tidak setiap hari tawa dan senyum menyertai mu teman
Ada saat dimana kau akan terkaget-kaget dengan sifat dan perilaku teman tidurmu
Ada saat kau merasa "menyesal" kenapa dulu tidak aku tanyakan ini pada suami mu itu
Ada saat dimana kalian berdua hidup tanpa uang
Manfaat kan lha jeda antara masa ta'aruf dengan ijab qabul
sebagai masa mencari tahu bagaimana wataknya calon suami mu itu
Tinggalkan ia ,jika ia gampang terpancing emosinya
Tinggalkan ia, jika ia malas bekerja
Tinggalkan ia, jika ia tidak sayang dengan orang tua mu
Tinggalkan ia, jika ia menikahi mu agar ada yang bisa mengurusi rumahnya
Ikhwan juga manusia.
Jangan "buta" dalam menilai calon suami mu kelak
Pilih lah benar-benar
Ikutkan Allah dalam memilihnya
Ikhwna juga manusia
Tiba-tiba siang ini sewaktu saya sedang tilawah, datang seorang kakek memakai baju batik celana hitam plus peci hitam sambil memegang tas hitam kecil. Beliau lalu meminta sedekah kepada saya. Awalnya saya ingin menolak memberikan sedekah. Bagi saya orang-orang yang meminta ke rumah-rumah itu tidak perlu dikasihani. Tapi yang ini berbeda. Dia seorang lelaki tua. Kalaupun dia bekerja, berapa lah yang bisa dia peroleh dengan tenaga yang semakin melemah dimakan umur itu. Jadi saya putuskan untuk memberikan sedikit uang yang ada di dompet.
Saat itu saya tersentak dan ingat dengan kakek yang saya temui di warung kemarin. Apa saya sedang ditagih janji nya sama Allah ????? wallahu'alam
Hingga tak lama setelah saya tib adi warung , datang lah seorang kakek yang renta. Menaiki tangga 'tuk sampai ke warung pun dengan tertatih-tatih. Kakek itu memegang seikat sayur bayam. Sambil bertanya berapa harga seikatnya.
Yang punya warung menjawab kalau harga semua sayur sedang mahal. Alhasil kakek tadi nggak jadi membeli. Saya kira beliau datang ke warung bukan cuma membeli seikat sayur. Jadi tidak begitu saya hiraukan. Saya anggap kakek itu seperti pembeli lainnya. Yang punya uang banyak untuk membeli kebutuhannya.
Saya pun pulang dibonceng suami. Belum sampai setengah jalan kami berpapasan dengan kakek tersebut. Disanalah saya baru sadar, kalau kakek tersebut pulang tidak membawa apa-apa. Ya Allah... kenapa tadi aq tidak membayarkan sayur yang beliau kehendaki. Seberapa lah harga sayur seikat itu. Astaghfirullah..... Kenapa saat di warung aq hanya fokus dengan belanjaan ku saja?! Motor kami pun terus berlanjut hingga ke rumah. Lalu saya pun berjanji , jika saya bertemu orang seperti itu lagi jangan sampai kehilangan moment tuk membantu.
Acara YM kemarin guest star nya ustadzah Irene Handono. Ustadzah itu tetep dari dulu selalu menginspirasi 'tuk yang lain. Saya salutnya dengan rasa ingin tahu nya yang tinggi terhadap agama Islam. Diriku aja belum tentu bisa sekritis beliau dalam memaknai agama ini. Beliau mengalami keajaiban sehabis shalat subuh sejak saat itu beliau tidak pernah lalai dalam menjalankan shalat terutama shalat subuh. Dan beliau mengakui bahwa beliau sangat menyukai dan menanti-nantikan saat shalat. Subhanallah...
Pas tanggal 24 Jan '13 kemarin PKS Batam ada acara safari Dakwah di asrama haji Batam Center. Alhamdulillah ust. Luthfi yang sekaligus presiden nya PKS bisa hadir. Orasinya yang menggugah (bagi yang mendengarkan) mengembalikan semangat ku lagi dalam mengkampanyekan PKS di lingkungan terdekatku. Ehem termasuk ke tetangga yang sekarang. Sudah kebayang aja bendera PKS tertancap di depan rumah, sama seperti lima tahun yang lalu.
Mungkin orang yang sudah mengenal saya akan menilai bahwa saya termasuk orang yang cuek. Saya akui itu, tapi hanya sedikit yang tahu bahwa saya cuek di luar tapi diam-diam kekal dalam menyimpan kritikan atau celaan orang lain dalam hati alias suka dibawa pikiran. Apalagi jika kritikan atau lebih tepat lagi prasangka buruk yang diucap oleh orang yang saya tua kan, yang saya hormati. Ya Allah... sakit banget hati ini. Beliau berprasangka tanpa mau tabayyun dengan saya. Lebih parah lagi beliau sudah menyampaikan ke orang lain. Saya coba memaklumi karena sejak dulu pun beliau gampang menilai buruk orang lain.
Malamnya saya nonton "Bukan Empat Mata edisi Maulid Nabi". Semula nggak mau nonton karena ada ustadz yang penuh sensasi. Tapi ternyata ada guest star lain namanya Ust. Danu. Cukup menarik eh menarik banget malah bahasan tentang ilmu beliau. Beliau bisa memberikan terapi pengobatan dari merunut amalan-amalan si pasien. Salah satu yang bisa saya ambil bahwa penyakit yang sekarang kita alami yang tidak kunjung sembuh bisa jadi karena akumulasi perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan pada masa lampau.
Menyambung soal "kecuekan" saya. Bu-dhe depan rumah mamak dengan spontan (mungkin) melontarkan perkataan kalau saya itu ibu yang cuek. Beliau berkata itu depan mamak saya. Saya waktu itu ada di dalam rumah tapi masih mengintip di balik jendela. Dan lebih sakit hati lagi perkataan itu di iyakan oleh mamak. Ya Allah.... pengen nangis dibahu nya mamas. Pengen minta mamas cepet pulang dari Bandung biar saya nggak perlu nginep di rumah Bengkong. Inilah kalau sudah menikah tinggal dengan orang tua. Ada aja yang salah dalam mendidik anak. Yah...coba bersabar dan (lagi) memaklumi dengan apa yang dilakukan orang tua saya. Namanya nenek dan atuk sangat memanjakan cucunya. Cucu satu-satunya lagi. :D
Nah ini dia yang terakhir. Sebenarnya malu juga mau diungkapkan di blog ini. Jujur saya masih suka nonton film Bollywood hehe :p. Tapi tidak sesuka seperti dulu yang sampai mengoleksi DVD nya.
Pertanyaan di atas adalah salah satu pertanyaan dari ustadz yang mengisi pengajian jum'at-an di RS tempat ku bekerja.
Dengan serentak kami pun menjawab ayam jantan.
"Salah.... ayam betina dulu pak-buk!" jawab ustadz dengan ekspresi datar
Kami yang hadir di sana pun udah mulai terperangah.
Kok salah ya? fikir ku
"Ayam jantan tu bangun jam 5 sedangkan ayam betina bangun jam 3" jelas ustadz
...................................................................................................

Setelah sesi tanya jawab tentang ayam tersebut, sang ustadz pun menjelaskan pada kami hikmah dari itu semua. Alam memberikan pelajaran pada kita sebagai manusia. Salah satu contohnya ya ayam tadi.
Manusia dianjurkan untuk bangun 1/3 malam pasti ada manfaat/ hikmahnya.
Suasana yang hening membuat kita bisa berkonsentrasi bermunajat kepada Allah. Allah pun berjanji barangsiapa yang berdoa pada 1/3 malam niscaya do'a nya akan dikabulkan.
Dan....
Coba kita flash back musibah yang terjadi di Indonesia khususnya, hampir semua musibah terjadi di saat manusia terlelap. na'udzubillah...
...................................................................................................
Balik lagi ke ayam (he...).
Ayam itu mengajarkan pada manusia yang sudah berpasangan.
Ayam betina bangun lebih dulu memberi tanda pada ayam jantan agar segera bangun dan keluar mencari makan. Barulah menjelang subuh si ayam jantan berkokok (anggap saja seperti adzan subuh).
...................................................................................................

Menjadi seorang Istri tidaklah mudah, dia lah manajer dalam rumah tangga. Ia lah menteri dalam negara kecilnya (red:Rumah Tangga).
Sampai-sampai ada ungkapan "di balik kesuksesan seorang laki-laki pasti ada wanita hebat di belakangnya".
Tapi.....
Sehebat-hebatnya seorang istri pastilah membutuhkan tempat untuk bersandar, bermanja-manja, menumpahkan semua suka-dukanya untuk kemudian diberi motivasi dan semangat untuk bangkit kembali yah... jawabannya adalah suaminya.
....................................................................................................
Entah benar ato tidak tentang kebiasaan ayam itu (secara ustadz itu gk ngasih sumber yang valid siy... :p) yang jelas alam selalu memberikan pelajaran pada manusia. Tinggal kitanya yang jeli atau tidak memperhatikan lingkungan sekitar.

Kadang kita lupa bersyukur dengan apa yang sekarang kita punya. Masih diberi nikmat untuk bisa bernafas secara spontan tanpa bantuan alat salah satu nikmat yang Allah berikan secara cuma-cuma. Mempunyai orang tua yang lengkap juga termasuk nikmat-Nya yang luar biasa. Kasih sayang dan perhatian yang kita dapat dari mereka bisa dikatakan tidak "cacat" karena diberikan langsung oleh orang yang tepat (ini tidak termasuk dalam keluarga yang orang tuanya sibuk di luar rumah dan mengabaikan hak-hak anak mereka).
Kali ini ku akan mengisahkan kembali pengalaman ku, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi kita yang masih menyandang predikat sebagai anak yang masih memiliki orang tua yang masih hidup.
Malam itu, malam terakhir ku dinas setelah menjalani 3 shift malam untuk kemudian besoknya aku bisa libur kerja. Tanpa disangka dua pasien wanita yang sudah lansia masuk secara bersamaan dengan diagnosa yang hampir sama, satu kamar pula.
hhhhhhhhhhhhhhhhhh
Malam yang panjang......
Malam yang sibuk........
Malam yang menguras tenaga dan perasaan........
Shift yang membuatku ngantuk berat....... (secara temanku yang lain cuma dapat 2 shift malam)
Dua wanita itu sama-sama punya anak dan menantu. Dua wanita itu sama-sama dalam kondisi yang buruk dengan kesadaran apatis.
Kami yang cuma berempat dinas di ruangan itu hanya sibuk di kamar mereka saja. Untung OS yang lain tidak membutuhkan perhatian yang penuh.
Miris hati ini, sewaktu kak Rahmat meminta ku memberikan obat oral ke anak salah satu wanita itu untuk diminumkan ke Ibunya. Si anak menolak untuk memberikan langsung ke Ibunya.
Degh!!
"Suster saja yang berikan!!!" Kata si Anak
"Lho! kok gitu bu??" tanya ku heran
"Ya suster ja...." pintanya
"Ini kan cuma diminum ja bu...." jelas ku
"Ya suster ja, saya nggak bisa" belanya
"Ha?! gk bisa???"
"Ibu buka bungkus obatnya, masukkan tablet ini ke mulut ibu itu..... kemudian kasih minum.... ya seperti biasa kasih makan obat bu...." jelas ku dengan menahan jengkel
"Aduh, suster aja" sambil nyodorin obat itu ke arah muka ku.
hhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Ku kira sulit juga memberikan obat ke Ibu itu..... secara umurnya sudah 7oth lebih. Jadi ku coba berkhusnudzon mungkin saja anaknya nggak mw kasih minum obat karena ni ibu suka membuang-buang obat atau susah minum obat. Tapi ternyata............................................................ nggak sampai 2 menit tu obat sudah hilang dari tanganku alias sudah diminum ma tu Ibu.
Itulah yang membuatku miris.
Anak tidak mau memberikan perhatian ke orang tua kandung di saat orang tua sudah lemah.
Kondisi manusia terus berputar, di saat bayi, manusia lemah kemudian tumbuh dan dewasa menjadi kuat dan seterusnya kembali lagi menjadi selemah-lemahnya manusia. Ya, menjadi manusia lanjut usia (lansia). Lansia keadaan dimana manusia kembali menjadi seperti bayi lagi. Mudah tersinggung, cengeng, (maaf) buang kotoran sembarangan dsb layaknya seperti bayi. Dan itulah saat dimana seorang anak benar-benar diuji kebaktiaan nya pada orang tua.
Ku tidak bermaksud menasehati orang lain, tulisan ini ku persembahkan untuk ku khususnya. Karena belum tentu suatu saat nanti aku akan sabar mengurus orang tua ku yang menjadi lansia. Bisa saja coretan sederhana ni menjadi cambuk di saat aq (mungkin) lalai dengan orang tua ku.
Wallahu'alam.....
Rasulullah pernah bersabda. “Aku berlindung kepada Allah terhadap
Pertama, jika perbuatan mesum dan perzinahan dalam suatu negeri sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul azab berupa wabah penyakit aneh yang belum pernah menimpa orang-orang yang terdahulu.
Kedua, jika suatu kaum menolak berzakat, maka Allah akan menghentikan turunnya hujan dan menimpakan paceklik yang berkepanjangan.
Ketiga, jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, maka Allah akan menurunkan kezaliman, kefakiran dan huru-hara.
Keempat, jika para penguasa tidak berhukum terhadap hokum Allah, maka Allah akan menciptakan musuh-musuh lain untuk memerintah mereka dan merampas harta-harta kekayaan mereka.
Kelima, jika janji tidak ditepati, menyia-nyiakan amanah, maka Allah akan menurunkan permusuhan, perpecahan dan pemberontakan.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
Bercermin dari kelima peringatan di atas, maka sudah seharusnya orang-orang shalih tidak berdiam diri berpangku tangan. Jangan berpuas diri karena sudah shalat dan naik haji. Karena dalam hadits di atas menunjukkan pentingnya dakwah bil hal. Pentingnya keshalihan berjamaah. Shalih yang tidak hanya untuk pribadi tapi keshalihan dalam bentuk sosial (Sabili, 2010)

Ini hanya sekedar berbagi cerita. Bagus tidaknya cerita tergantung penilaian yang baca tulisan ini. Beberapa hari yang lalu aq datang ke rumah MR SMA ku sekalian mau ambil buku yang sebelumnya ku titip dgn suami nya yang pergi ke Jakarta. Seperti biasa setiap aq datang ke rumahnya, beliau selalu bertanya apa aq sdh makan ato belum, lalu bertanya kondisi liqo ku dan berlanjut hingga berbicara ttg seorang umahat yang membuat usaha kue dan alhamdulillah sekarang lumayan sukses di Batam. Sebenarnya sih bukan mau cerita kiat sukses beliau membuat usaha kue, tapi MR ku malah menceritakan proses si Umahat mendapatkan jodohnya. Begini cerita nya.
Proses yang Kilat
Akhwat (si Umahat) ini adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, beliau merupakan aktivis yang subhanallah mempunyai semangat luar biasa. Padahal ia sedang menderita suatu penyakit dimana penyakit itu menyerang tulang belakang dan sempat membuat si akhwat tidak berdaya. Kemudian dokter pun menyatakan jika ingin sembuh maka cara yang dilakukan haruslah dgn cara menikah. Si akhwat pun bingung. Kemudian beliau pun berdoa. Kejadian ini terjadi menjelang Ramadhan. Maka dari awal Ramadhan pun ia berdo’a dengan sungguh-sungguh, meminta kepada Allah. Beliau meminta sembuhkan penyakitnya dan pertemukanlah ia dgn jodoh sesegera mungkin apabila memang menikahlah cara yang terbaik. Hingga pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, beliau pun I’tikaf di mesjid Bandung. Beberapa hari kemudian sehabis beliau berdo’a, si akhwat pun disamperin oleh seorang ibu.
Si Ibu pun bercerita mengenai anak laki-lakinya yang sudah menduda dgn satu cucu yg masih sangat kecil. Anak laki-lakinya menduda karena menantunya meninggal disebabkan kanker. Karena sama-sama orang Sunda si Ibu dan akhwat pun nyambung dalam berbicara. Kemudian tiba-tiba dengan to the point si Ibu melamar si akhwat. Ternyata selama I’tikaf si Ibu sudah memperhatikan gerak-gerik si akhwat, hingga jatuhlah pilihan si Ibu terhadap akhwat tsb.
Pagi-pagi saat sahur, si Ibu memanggil anak lakinya tsb. Si Ibu dengan PeDe nya bilang ke anak lakinya bahwa si akhwat nerima pinangan dari Ibu. Jelas saja si akhwat kaget bukan kepalang. Karena si akhwat belum mengatakan ia setuju ato tidak dengan pinangan itu. Kemudian si akhwat melirik anak laki si Ibu tsb, eh malah jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena si akhwat harus menjaga image nya maka si akhwat mengatakan bahwa dia harus bertanya dulu dengan orang tua nya. Si Ibu pun tidak keberatan, asal pernikahannya dilakukan sesegera mungkin karena anak lakinya tsb akan pulang ke Batam. Maka pada lebaran ke-3 pernikahan pun berlangsung. Benar-benar proses yang kilat dan luar biasa.

Petuah Murobbiyah
Pengalaman yg membuat aq merinding. Seperti cerita dalam cerpen FLP. Singkat dan manis. Jangan pernah meragukan kekuatan do’a. Jangan pernah bosan untuk berdo’a. Kita tidak pernah tahu kapan do’a kita dikabulkan Allah, jadi, berdo’a lah tiap waktu.
Yoyen dalam Kenangan



- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact