Senin malam (22/11) lalu saat stand by di depan laptop sengaja fasilitas YM ku aktifkan. 6 Mitos Kesehatan Yang Masih Berkembang di Masyarakat
1. MEMAKAI PAKAIAN TEBAL / SELIMUT KETIKA DEMAM FAKTA : Pakaian tebal/ selimut akan menaikan suhu tubuh. Suhu yang sangat tinggi (39 derajat atau lebih) pada anak-anak bisa menyebabkan kejang-kejang. Disarankan untuk mengenakan pakaian tipis meskipun tubuh terasa dingin. |
2. KALAU DEMAM TIDAK BOLEH MANDI FAKTA : Dengan mandi ketika demam dapat menurunkan suhu tubuh yang sedang meningkat. Tetapi, kalau demam disertai dengan rasa menggigil, mandi dengan air hangat akan lebih baik atau kompres dengan air hangat. |
3. MANDI MALAM HARI MENYEBABKAN REMATIK FAKTA : Hal ini tidak benar. Kalau kondisi tubuh dalam keadaan sehat dan memerlukan mandi untuk kebersihan, tidak ada masalah mesdkipun mandi malam hari. Tetapi pada penderita rematik, dianjurkan mandi dengan air hangat. |
4. PENDERITA CACAR AIR ATAU CAMPAK TIDAK BOLEH MANDI ![]() FAKTA : Hal ini malah bertentangan dengan prinsip medis, dimana pada penderita penyakit cacar air atau campak dengan kelainan pada kulit yang menyeluruh, justru harus menjaga kebersihan kulit dengan mandi lebih sering agar perluasan penyakit dapat dicegah, disamping menggunakan obat. |
5. ANGIN DUDUK HARUS DIKEROK ATAU DIPIJAT FAKTA : Apabila menderita angin duduk, jangan dipijat atau dikerok. Kejadian orang yang meninggal ketika dipijat, menunjukkan betapa penangan yang salah dapat berakibat fatal. Hal yang harus dilakukan adalah : Pemberian oksigen dan obat serta tindakan diagnostik khusus. Ini mungkin merupakan gejala awal serangan jantung berat akibat sumbatan darah keseluruh tubuh. |


Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah - taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.
Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.
Perbedaan taaruf dengan pacaran

Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil yang ahli memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar-menawar. Ketika melakukan taaruf, seseorang baik pihak pria atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetil, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri.
Proses taaruf
Tujuan taaruf
Taaruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting. Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.
Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Khusus dalam kasus taaruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh di sana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua telapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena telapak tangan wanita bukanlah termasuk aurat.
Manfaat Taaruf

Pertanyaan di atas adalah salah satu pertanyaan dari ustadz yang mengisi pengajian jum'at-an di RS tempat ku bekerja.
Dengan serentak kami pun menjawab ayam jantan.
"Salah.... ayam betina dulu pak-buk!" jawab ustadz dengan ekspresi datar
Kami yang hadir di sana pun udah mulai terperangah.
Kok salah ya? fikir ku
"Ayam jantan tu bangun jam 5 sedangkan ayam betina bangun jam 3" jelas ustadz
...................................................................................................

Setelah sesi tanya jawab tentang ayam tersebut, sang ustadz pun menjelaskan pada kami hikmah dari itu semua. Alam memberikan pelajaran pada kita sebagai manusia. Salah satu contohnya ya ayam tadi.
Manusia dianjurkan untuk bangun 1/3 malam pasti ada manfaat/ hikmahnya.
Suasana yang hening membuat kita bisa berkonsentrasi bermunajat kepada Allah. Allah pun berjanji barangsiapa yang berdoa pada 1/3 malam niscaya do'a nya akan dikabulkan.
Dan....
Coba kita flash back musibah yang terjadi di Indonesia khususnya, hampir semua musibah terjadi di saat manusia terlelap. na'udzubillah...
...................................................................................................
Balik lagi ke ayam (he...).
Ayam itu mengajarkan pada manusia yang sudah berpasangan.
Ayam betina bangun lebih dulu memberi tanda pada ayam jantan agar segera bangun dan keluar mencari makan. Barulah menjelang subuh si ayam jantan berkokok (anggap saja seperti adzan subuh).
...................................................................................................

Menjadi seorang Istri tidaklah mudah, dia lah manajer dalam rumah tangga. Ia lah menteri dalam negara kecilnya (red:Rumah Tangga).
Sampai-sampai ada ungkapan "di balik kesuksesan seorang laki-laki pasti ada wanita hebat di belakangnya".
Tapi.....
Sehebat-hebatnya seorang istri pastilah membutuhkan tempat untuk bersandar, bermanja-manja, menumpahkan semua suka-dukanya untuk kemudian diberi motivasi dan semangat untuk bangkit kembali yah... jawabannya adalah suaminya.
....................................................................................................
Entah benar ato tidak tentang kebiasaan ayam itu (secara ustadz itu gk ngasih sumber yang valid siy... :p) yang jelas alam selalu memberikan pelajaran pada manusia. Tinggal kitanya yang jeli atau tidak memperhatikan lingkungan sekitar.
Sebenarnya malam yang cukup melelahkan karena,
itu malam kedua dinas ku.
Tapi, salah satu teman shift ku yang laki-laki nggak henti-hentinya ngajak ngomong...
Sebut saja namanya DK .
Serasa di"nina bobok"kan olehnya (he...he...)
Tapi ya sudahlah, memang begitu orangnya. Hobinya bercerita, dan ngobrol.
Pada awalnya dia cuma bercerita tentang pengalamannya sebagai mantri di salah satu tempat di Jawa Barat. Cukup banyak dan seru juga pengalamannya. Bila dibandingkan dengan ku yang nggak ada apa-apanya.
......................................................................................................................................
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2:55 am.
Hanya aq dan DK yang masih bertahan stand by di meja perawat.
Sedangkan 2 teman ku sudah nggak tahan lagi menahan kantuk.
Obrolan kami pun berlanjut setelah beberapa waktu sebelumnya ku nerima telp dari seseorang.
Aduh!
Tiba-tiba saja perutku sakit. Sepertinya magh ku kambuh. Ya sudahlah ku putuskan untuk makan.
Di tengah waktu makan ku, DK bercerita tentang pasien kami yang tidur se-bed tapi bukan pasangan suami-istri.
eh... DK malah bercerita (maaf sedikit porno) tentang hubungan intim.
Panjang lebar DK bercerita tentang kebiasaan wanita dalam berhubungan i**im
Ih.... jijiknya....
Walaupun cerita yang begini-an sudah lumrah bagi mahasiswa kesehatan, tapi bagi ku tetep ja nggak etis untuk diceritakan klo tidak penting untuk dibahas.
Semula aq tidak mudeng klo dia bercerita tentang pengalamannya sewaktu masih menjadi mahasiswa tapi sudah melakukan hubungan "itu" (maklum mata sudah ngantuk berat)
Tapi, tiba-tiba aq baru ngeh....
Ternyata dia bercerita tentang dia dan pacarnya sewaktu di Bandung dulu.
Dan lebih teruknya, ternyata pacarnya itu masih SMA dan mereka melakukan "itu" atas dasar suka sama suka.
Na'udzubillah.....
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Langsung terbelalak mata ku.....
DK bilang dia tobat, tapi ekspresi dia bercerita seperti tidak menyesal sama sekali.
DK bilang dia sengaja pergi dari Bandung ke Batam, supaya dapat wanita yang baik.
Tapi, DK kembali kecewa.
Karena yang DK lihat wanita di Batam pun tak jauh beda dengan yang di Bandung.
Aq pun hanya bisa tersenyum sinis ke DK sambil bergumam dalam hati
Memangnya dirimu sudah baik?
Mau dapat wanita baik tapi dirinya sendiri ......
Ya mana bisa.......
...........................................................................................................................................
Mari kita lihat di mbah google
Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak, 62,7 persen remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan. Hasil lain dari survei itu, ternyata 93,7 persen siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 persen remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film forno (Palangkapost.com, 2010)
Penelitian LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara) Bandung antara tahun 2000-2002, remaja yang melakukan seks pra nikah, 72,9% hamil, dan 91,5% di antaranya mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Data ini didukung beberapa hasil penelitian bahwa terdapat 98% mahasiswi Yogyakarta yang melakukan seks pra nikah mengaku pernah melakukan aborsi. Secara kumulatif, aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta kasus per tahun. Setengah dari jumlah itu dilakukan oleh wanita yang belum menikah, sekitar 10-30% adalah para remaja. Artinya, ada 230 ribu sampai 575 ribu remaja putri yang diperkirakan melakukan aborsi setiap tahunnya. Sumber lain juga menyebutkan, tiap hari 100 remaja melakukan aborsi dan jumlah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja meningkat antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahun.
Selain itu survei yang dilakukan BKKBN pada akhir 2008 menyatakan, 63 persen remaja di beberapa kota besar di Indonesia melakukan seks pranikah. Dan, para pelaku seks dini itu menyakini, berhubungan seksual satu kali tidak menyebabkan kehamilan.
Sumber lain juga menyebutkan tidak kurang dari 900 ribu remaja yang pernah aborsi akibat seks bebas (Jawa Pos, 28-5-2001). Dan di Jawa Timur, remaja yang melakukan aborsi tercatat 60% dari total kasus (Jawa Pos, 9-4-2005).
........................................................................................................................................Masih banyak lagi kalau mau ditelusuri satu persatu di google.
........................................................................................................................................
Dan janganlah kamu mendekati zina;Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Kebanyakan yang menyebabkan seseorang masuk neraka adalah mulut dan farj (kemaluan)”. Dan, sabda Rasul lainnya, “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali tiga orang, yaitu laki-laki yang berzina, orang yang membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad) yang keluar dari jamaah muslim”.
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan
suatu jalan yang buruk. (QS. al-Isra' : 32)

Kadang kita lupa bersyukur dengan apa yang sekarang kita punya. Masih diberi nikmat untuk bisa bernafas secara spontan tanpa bantuan alat salah satu nikmat yang Allah berikan secara cuma-cuma. Mempunyai orang tua yang lengkap juga termasuk nikmat-Nya yang luar biasa. Kasih sayang dan perhatian yang kita dapat dari mereka bisa dikatakan tidak "cacat" karena diberikan langsung oleh orang yang tepat (ini tidak termasuk dalam keluarga yang orang tuanya sibuk di luar rumah dan mengabaikan hak-hak anak mereka).
Kali ini ku akan mengisahkan kembali pengalaman ku, mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi kita yang masih menyandang predikat sebagai anak yang masih memiliki orang tua yang masih hidup.
Malam itu, malam terakhir ku dinas setelah menjalani 3 shift malam untuk kemudian besoknya aku bisa libur kerja. Tanpa disangka dua pasien wanita yang sudah lansia masuk secara bersamaan dengan diagnosa yang hampir sama, satu kamar pula.
hhhhhhhhhhhhhhhhhh
Malam yang panjang......
Malam yang sibuk........
Malam yang menguras tenaga dan perasaan........
Shift yang membuatku ngantuk berat....... (secara temanku yang lain cuma dapat 2 shift malam)
Dua wanita itu sama-sama punya anak dan menantu. Dua wanita itu sama-sama dalam kondisi yang buruk dengan kesadaran apatis.
Kami yang cuma berempat dinas di ruangan itu hanya sibuk di kamar mereka saja. Untung OS yang lain tidak membutuhkan perhatian yang penuh.
Miris hati ini, sewaktu kak Rahmat meminta ku memberikan obat oral ke anak salah satu wanita itu untuk diminumkan ke Ibunya. Si anak menolak untuk memberikan langsung ke Ibunya.
Degh!!
"Suster saja yang berikan!!!" Kata si Anak
"Lho! kok gitu bu??" tanya ku heran
"Ya suster ja...." pintanya
"Ini kan cuma diminum ja bu...." jelas ku
"Ya suster ja, saya nggak bisa" belanya
"Ha?! gk bisa???"
"Ibu buka bungkus obatnya, masukkan tablet ini ke mulut ibu itu..... kemudian kasih minum.... ya seperti biasa kasih makan obat bu...." jelas ku dengan menahan jengkel
"Aduh, suster aja" sambil nyodorin obat itu ke arah muka ku.
hhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Ku kira sulit juga memberikan obat ke Ibu itu..... secara umurnya sudah 7oth lebih. Jadi ku coba berkhusnudzon mungkin saja anaknya nggak mw kasih minum obat karena ni ibu suka membuang-buang obat atau susah minum obat. Tapi ternyata............................................................ nggak sampai 2 menit tu obat sudah hilang dari tanganku alias sudah diminum ma tu Ibu.
Itulah yang membuatku miris.
Anak tidak mau memberikan perhatian ke orang tua kandung di saat orang tua sudah lemah.
Kondisi manusia terus berputar, di saat bayi, manusia lemah kemudian tumbuh dan dewasa menjadi kuat dan seterusnya kembali lagi menjadi selemah-lemahnya manusia. Ya, menjadi manusia lanjut usia (lansia). Lansia keadaan dimana manusia kembali menjadi seperti bayi lagi. Mudah tersinggung, cengeng, (maaf) buang kotoran sembarangan dsb layaknya seperti bayi. Dan itulah saat dimana seorang anak benar-benar diuji kebaktiaan nya pada orang tua.
Ku tidak bermaksud menasehati orang lain, tulisan ini ku persembahkan untuk ku khususnya. Karena belum tentu suatu saat nanti aku akan sabar mengurus orang tua ku yang menjadi lansia. Bisa saja coretan sederhana ni menjadi cambuk di saat aq (mungkin) lalai dengan orang tua ku.
Wallahu'alam.....
Kata “nggak tahu” punya tempat tersendiri di memory ku, dan itupun pada memory yang kurang menyenangkan. Pengalaman praktek di RS semasa mahasiswa merupakan kumpulan pengalaman yang tidak menyenangkan bagi ku. Kecuali pengalaman praktek di RSJ Pekanbaru. Kenapa?
Kata itu (red: nggak tahu) muncul di saat adrenalin meningkat dan itu keluar dari perawat-perawat yang garang. Tapi, tidak semua “nggak tahu” buruk. Toh! Itu demi kebaikan kami (red: mahasiswa) agar lebih banyak belajar. Jujur saja klo tidak tahu. Daripada berakibat fatal dengan pasien itu lebih bahaya lagi…..
Infus macet
Kali ini ruangan tempat ku dinas mendapat pasien dengan diagnosa medis stroke/ penyumbatan pembuluh darah di kepala. Pasien ini ku jemput di Emergency. Seperti biasa ku matikan dulu jalannya infus, biar darah tidak naik pada selang infus sebelum kami meninggalkan emergency. Kemudian ku bawa si pasien ke ruangannya. Lalu ku buka kembali jalan infusnya. Dari sinilah bermula emosi ku dan teman-teman satu shift ku beserta istri si pasien mulai terpancing kemudian meledak (he… bom kalee).
Waktu itu yang berada dalam ruangan itu cuma aku, pasien beserta istrinya. Setelah ku buka jalan infusnya. Ternyata macet. Yah… seperti biasa ku lakukan sedikit tarikan-tarikan. Lama…
Naiklah darah memenuhi selang infus. Lalu ku ambil perlengkapan untuk spuling. Tetep…. Aja gk bisa. Lalu ku tanyakan pada istrinya. Apa di emergency seperti ini juga?
Lalu istrinya menjawab klo di emergency pada tusukan yang ketiga baru jalan infusnya. Karena mungkin aq terlalu lama di ruangan pasien, maka TJ shift ku menyuruh teman ku yang lain bantu. Lalu datanglah kak Rahmat .
“Kenapa Nop?” Tanya kak Rahmat
“Macet kak. Dari tadi Nopa perbaiki gk bisa. Padahal baru dari emergency” jawab ku
Kak Rahmat pun mencoba memperbaikinya. Lama…..
Tapi, akhirnya bisa juga.
“nggak tahu” bikin emosian
Belum 10 menit kami meninggalkan ruangan Bapak itu. Eh, udah ada keluhan klo infus nya macet lagi.
“Tengoklah Nop” suruh kak Rahmat
Ku perbaiki….
Nihil….
Sama aja…..
Aq gk bisa.
Jadi ku tanya pada istrinya. Apa Bapak terlalu banyak bergerak. Istrinya menjawab tidak.
Hampir hilang akal aq dibuatnya. Ku panggil kak Rahmat kembali.
Hal yang sama pun terjadi. Kak Rahmat tak bisa memperbaikinya.
“Ambilkan infuse set baru Nop” pinta kak Rahmat
Ha?! Infuse set baru? Padahal baru ja dipasang.
Singkat cerita infuse set sudah diganti. Tapi, hasilnya tetap sama. Gk lancar juga tu aliran infuse. Akhirnya kami putuskan untuk menusuk ulang vena dengan meminta izin pasien dan istrinya. Semula mereka tidak mau karena trauma di tusuk terus. Tapi akhirnya mau juga.
Beberapa saat kemudian….
“Sus.. infuse nya macet lagi” keluh istri pasien
Gubrak!!!!
Kenape…. Lah dengan vena Bapak itu?
Masa’ dalam sehari udah lebih 3x macet infuse nya.
“ Lihat lah sana Nop” Suruh kak Rahmat yang udah mulai jengkel dengan kejadian ini
Seperti biasa ku perbaiki lagi…….
“Itu kenapa bisa begitu Sus?” Tanya istrinya padaku
“ Gini Bu,, dari yang sudah kami coba menusukkan infuse ke vena Bapak. Kami lihat vena Bapak ini kecil. Padahal seharusnya vena laki-laki itu besar… tapi, bisa juga ada hubungan nya dengan penyakit Bapak. Sepertinya darah Bapak kental sekali” jelas ku sambil menahan jengkel.
“Gitu kan enak dijelaskan Sus….saya pun jadi ngerti…” Tiba-tiba si istri menjawab
Badannya yang besar dan tampang seperti orang galak, sempat membuat ku kaget dengan jawaban nya itu.
“Ini nggak,, sewaktu saya tanya sama perawat yang Batak itu (red: teman satu shift) jawabannya nggak tahu sambil bentak-bentak. Saya kira pelayanan di sini bagus ternyata …emosi jadinya saya Sus. Klo saya tahu penyebabnya udah jadi dokter kali saya. Ini karena saya nggak tahu makanya saya tanya dan berobat” protes si Istri
“Iya maaf bu…” jawab ku
Si Ibu mulai open
Semula si Ibu bilang klo kami (red: perawat) kerja nggak becus dengan bahasa Minang ke suaminya.
Hhhh… emangnya aq nggak ngerti apa? Menahan emosi selama berada dalam ruangan itu. Tapi, setelah ku jelaskan sebab musabab infus suaminya macet. Si Ibu sudah mulai open. Jika si Ibu mau pulang dulu, si Ibu cuma pamit pada ku dan berpesan klo dia menitipkan suaminya. Klo ku masuk ke ruangan itu, si Ibu bertanya “ Sus masuk sore ya?”.
“Nop injeksikan dulu lah Bapak itu” Suruh kak Rahmat yang lagi sibuk nemanin dokter visite.
“Pak, saya masukkan obat dulu ya…” Ijin ku
Selesai ku injeksikan obat nya. Tiba-tiba si Ibu manggil
“Sus..sus…bentar. Ni untuk Sus” Panggil Si Ibu sambil menyerahkan bungkusan berwarna hitam
“Apa ni Bu?” Tanya ku
“Bukan apa-apa… cuma dari kampung” jelas nya
Kemudian ku buka bungkusan itu, ternyata isinya buah apel

Baru ku tahu kenapa kebanyakan perawat Rumah Sakit (RS) judes dan sering bermuka masam. Ternyata beban kerja mereka luar biasa beratnya. Tidak seperti perawat di Puskesmas, Pustu, ataupun di klinik, tugas mereka lebih ringan di bandingkan di RS.
Kurang dari tiga hari ku menjalani peran sebagai karyawan alias perawat training di RS. Rasanya udah nggak kuat. Padahal praktek di RS sudah pernah kujalani sewaktu masih menjadi mahasiswa keperawatan. Tapi kali ini rasanya Cuuaapeekk banget.... Kaki serasa nyut-nyutan. Padahal sudah sengaja mengganti sepatu yang lebih ceper ternyata belum mempan juga (T_T).

Sabtu (28/8) ku dinas di Unit Gawat Darurat (UGD), lumayan asyik. tidak banyak berdiri dan berjalan. Perawat seniornya pun asyik-asyik. Yang buat suasana kerja lebih cair saat itu adalah munculnya wacana ketidak samarata-an dalam pembagian air kaleng sebagai jatah lebaran bagi seluruh karyawan RS. Perawat di Poli dan di UGD tidak mendapat jatah minuman seperti para perawat di Ruang perawatan dan di ICU. Jadi rame tuh UGD dengan suara ketawa dan protes para perawat Poli dan UGD yang notabene adalah perawat yang paling lama mengabdi di RS tersebut.
Cukup empat hari ku menjalani masa orientasi di RS. Dan akhirnya diputuskan lah penempatan ku di mana. Karena salah satu perawat di Ruang Perawatan lantai III baru saja mengundurkan diri, maka aku ditugaskan menggantikan posisi beliau.
Fiuh.... Dinas di ruangan bangsal...
Makin gempor aja nih kaki.,,,,
Menyambung tulisan “Gara-gara Mentoring” yang lalu. Ku buka tulisan kali ini dengan sedikit muqoddimah.
Membentuk keluarga adalah fitrah bagi manusia. Tipe keluarga seperti apa yang akan dibentuk merupakan pilihan bebas bagi yang menjalaninya. Tergantung sejauh mana visi dan misi anda menikah. Sayang, banyak dari kaum muslim sekarang menikah hanya menurut kecenderungan naluriahnya. Padahal umat saat ini sangat mengharapkan generasi yang akan membangkitkan mereka. Generasi kebangkitan akan dapat terwujud dari keluarga yang dibentuk di atas paradigma pembentukan keluarga yang terpancar dari pandangan hidup Islam. Namun gambaran tuntunan Islam itu sudah kabur di dalam benak banyak orang dari kaum muslim. Maka suatu kewajibanlah untuk menjelaskan kepada umat. Proses paling awal dalam membentuk keluarga adalah memilih pasangan dan meminang.
Yah, kira-kira segitu saja muqoddimah yang saya edit dengan bahasa sendiri tanpa mengurangi maksud dari penulis.
Siang itu (19/8) aku duduk diantara antrian orang-orang yang akan mengurus surat-surat penting atau dengan kata lain aku sedang berada di kantor kecamatan Bengkong. Fiuh… menunggu untuk mendapatkan legalitas sebuah surat. Perlu sabar melihat cara kerja para pegawai itu. Apalagi menunggu adalah hal yang ku benci tapi ditunggu merupakan hal yang lebih ku benci. Jadi jika dihadapkan dengan dua pilihan itu aku lebih baik milih untuk menunggu. Melihat para pegawai yang mondar-mandir buka pintu membuat ku pusing, ku alihkan perhatian untuk membuka buku “Capita Selecta KAMMI: membumikan ideologi menginspirasi Indonesia, karangan Rijalul Imam dkk”. Buku yang belum sempat ku khatamkan.
(Agak sedikit menyimpang) “Tafsir Epistemologi Prinsip Gerakan KAMMI, Rijalul Imam” merupakan sub judul yang ku baca saat itu. Di dalam pembahasan ini bang Rijal (he… sok akrab!) menuliskan ada 6 mihwar (poros) gerakan KAMMI dalam membangun Indonesia. Pertama fase ideologi (1980-1998), kedua fase resistensi (1998-2004), ketiga fase reformulasi (2004-2009), keempat fase rekonstruksi (2009-2014), kelima fase leaderisasi (2014-2019), keenam fase internasionalisasi (2019-2024). Bagi ku bahasan ini cukup menarik, perhatikan tahun-tahunnya. Berada di fase apakah kita? Yup! Benar kita berada di fase rekonstruksi. Tahun 2009 adalah fase titik balik yang menentukan. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang pasti setiap gerakan harus memiliki rencana strategis (renstra). Renstra di lima tahun ke depan adalah menggulirkan Narasi Rekonstruksi Kebangsaan. Pada akhir bahasan ini bang Rijal menuliskan bahwa KAMMI harus merekonstruk kader-kadernya meningkatkan keahlian di bidangnya dan bergerak sesuai kompetensinya. Kelak, kader yang kompeten di bidang ekonomi syariah bekerja keras memperbaiki resesi ekonomi di sektor real dan makro. Kader di kedokteran pun bekerja memberikan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat dsb.
(Kembali ke jalan yang benar he… maksudnya kembali ke pokok bahasan) Akhir tahun 2010 ini usiaku genap 23 tahun. Berarti fase rekonstruksi berakhir saat ku berusia 27 tahun. Kemudian menginjak tahun ke-28 aku berada di fase leaderisasi, fase dimana bila dari tahun 2009-2014 KAMMI beserta para alumninya berhasil merekonstruksi bangsa ini maka hanya kepercayaan yang akan diberikan masyarakat pada KAMMI untuk memimpin negeri ini. Tentu pada fase leaderisasi ini usia kader dan alumni KAMMI sudah tidak hanya 20 tahun melainkan sudah ada yang seusia 30-an. Glekk!! Tiba-tiba ku terhentak. Apa tahun 2014 kader KAMMI akan semakin banyak??? Mengingat mahasiswa sekarang tidak seheroik dulu, tidak seidealis dulu. Begitu banyak prasangka-prasangka negatif yang muncul di benak. Lalu ku merujuk pada salah satu tulisan di atas “Generasi kebangkitan akan dapat terwujud dari keluarga yang dibentuk di atas paradigma pembentukan keluarga yang terpancar dari pandangan hidup Islam”. Wah… nancep banget nie kalimat. Salah satu solusi dari ketakutan-ketakutan ku itu ya memilih pasangan yang baik agamanya untuk menjadi teman hidup.
Bersambung lagi cank…
Masih hari pertama, jadi ku gunakan untuk berta’arufan dengan mereka. Sekaligus sharing mengenai perkembangan ROHIS beberapa tahun belakangan.
Sesi Tanya Jawab
“ Kak, bener ya pacaran itu tidak boleh?” Tanya salah satu peserta mentoring dengan serius
“ Siapa bilang? Boleh kok!?” jawab ku dengan PeDe nya
???????????????????????
tampaklah muka mereka yang keheran-heranan. Langsung saja ku sambung.
“Pacaran itu boleh asal setelah menikah, malah itu wajib” lanjut ku
“Oooooo…..” tanggap mereka serentak
“Trus klo nggak pacaran lewat apa donk kak?”
“Ya ta’aruf, kalian pernah dengar kata ini kan?”
“Pernah sih kak…, tapi ta’aruf itu seperti apa?”
Glekkkk!!!!
Ta’aruf itu seperti apa ya?? wong aku belum pernah menjalaninya. Gimana ku bisa kasih tahu kronologisnya.
Akhirnya, dengan berat hati ku jujur mengatakan pada mereka bahwa aku tidak begitu tahu detail ta’arufan sebelum menikah itu seperti apa. Jadi yang kusampaikan pada mereka adalah proses yang pernah ku dengar dari Murobbiyah dan temen-temen satu usroh ku dulu. Alias ala kadarnya, tidak begitu lengkap.Dari kejadian itu, ku agak sedikit menyesal. Karena dari dulu ku paling ogah-ogahan membeli buku yang berhubungan dengan pernikahan. Jangankan membeli lalu membacanya. Membicarakannya atau membahasnya pun ku malas. Tidak berminat. Sampai-sampai ku tak berminat lagi membaca novel-novel Islami. Karena bisa ku tebak akhir ceritanya. Klo nggak sad ending dengan kematian ya….. happy ending dengan pernikahan dan poligami. Betul tidak?! He…
Akhirnya karena kebutuhan inilah aku membeli dua buku tentang pernikahan. Satu untuk kado pernikahannya Kak Dodi dan yang satu lagi untuk ku baca-baca. Lumayan bisa buat bekal ku nanti. Aku lupa judul buku yang ku kasih untuk kak Dodi, tapi judul buku untuk ku adalah “Risalah Khitbah: Konsep Paradigmatik dalam Memilih Pasangan dan Meminang, karangan Yahya Abdurrahman”. Aku membalinya awal Juli 2010, baru Ramadhan ini ku sempat membacanya. Itu pun tidak ku baca dengan berurutan. Yang jelas Muqaddimah atau kata pengantar selalu ku baca duluan. Biar ku tahu apa tujuan si penulis memakai judul itu sebagai judul besar di bukunya. Kemudian ku membaca daftar isi nya, kira-kira subjudul mana yang paling menarik untuk bisa dibaca terlebih dahulu.
Lalu ku pilih sub judul “Inikah Saatnya?”. Ada rasa ingin tahu dalam diriku. Apakah diriku sudah termasuk yang disunnahkan untuk menikah? Ataukah hukum wajib sudah jatuh pada ku? Atau hukum haram kah yang sekarang ku sandang? Jika aku termasuk yang disunnahkan/diwajibkan untuk menikah maka ku bulatkan tekad untuk segera menuliskan CV dari Murobbiyah yang sudah berminggu-minggu terlantar di tumpukan buku-buku.
Bersambung cink….
Aku sudah kalah
Kalah dalam pertandingan keyakinan dan ketekad-tan
Kalah dalam memperjuangkan apa yang ku mau
Sekarang
Hanya bisa pasrah
Hanya bisa mengikuti
Sekarang
Aq berada dalam “back to zero”
Kosong …..
Lelah…..
Berat untuk bisa tersenyum lepas
Hanya bisa menangis dalam kesendirian
Hanya bisa menyalahkan diri sendiri
Berjalan sendiri dengan menundukkan kepala
Menutup muka
Malu dengan dunia
Terlambat!
Kesempatan masa lalu tak bisa terulang
Untuk ku jalankan
Rahasia apakah ini ya Allah…..
Coretan hati ba’da curhat dengan Nya
Di dini hari pada bulan Ramadhan
Hamba yang lemah
- Apa yang bisa diperbuat seorang anak perempuan untuk membahagiakan orang tuanya?
- Apa yang bisa diperbuat seorang kakak perempuan untuk membahagiakan orang tua dan adik-adiknya?
- Apa yang bisa diperbuat seorang gadis untuk membahagiakan orang tuanya?
- Apa yang bisa diperbuat seorang istri untuk membahagiakan orang tua, mertua, suami, adik kandung dan iparnya?
- Apa yang bisa diperbuat seorang ibu untuk membahagiakan suami dan anak-anaknya?
Yoyen dalam Kenangan





- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact